Lebah.or.id
No Result
View All Result
logo-pkb
Selasa, 2 Juni 2026
  • Home
  • Berita
  • Info Publik
    • Dewan Pengurus
    • Laporan Keuangan
    • PPID
  • Download
    • Form Pendaftaran Caleg DPR RI
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Tentang Kami
  • Opini
  • Tokoh
  • Khutbah
Lebah.or.id
  • Home
  • Berita
  • Info Publik
    • Dewan Pengurus
    • Laporan Keuangan
    • PPID
  • Download
    • Form Pendaftaran Caleg DPR RI
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Tentang Kami
  • Opini
  • Tokoh
  • Khutbah
No Result
View All Result
Lebah.or.id
logo-pkb
  • Home
  • Berita
  • Info Publik
  • Download
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Opini
  • Tokoh
  • Khutbah

KHOTBAH JUM’AT “SYUKUR ATAS PANCASILA DAN SEJARAH PERUMUSAN OLEH ULAMA”

Oleh : H. Ayi Mamduh, S.Ag. M.Pd (Wakil Ketua Tanfidziyyah PCNU Cianjur dan Sekretaris MUI Kab. Cianjur)

adminlebah by adminlebah
2 Juni 2026
in Khutbah
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita luapkan rasa syukur yang tak terhingga ke hadirat Allah SWT. Kita dilahirkan,
dibesarkan, dan melakukan peribadatan di sebuah negeri yang aman bernama Indonesia. Di
tengah keberagaman suku, bahasa, dan agama, kita disatukan oleh sebuah fondasi kokoh
bernama Pancasila. Hadirnya Pancasila adalah mukjizat politik dan anugerah terbesar bagi
bangsa ini. Allah berfirman:


“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku
akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab
Ku sangat berat’.” (QS. Ibrahim: 7)
Mensyukuri Pancasila berarti menjaga warisan berharga ini dari perpecahan. Pancasila lahir bukan
dari ruang hampa, melainkan dari tetesan keringat, air mata, dan kecerdasan spiritual para ulama
serta tokoh bangsa.

Sejarah Perumusan: Peran Ulama di BPUPKI dan PPKI
Sejarah mencatat bahwa dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan
(BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), duduk para ulama dan tokoh
Islam terkemuka. Di antaranya: KH. Wahid Hasyim (putra pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari),
Ki Bagus Hadikusumo (pemimpin Muhammadiyah), KH. Abdul Kahar Muzakir, H. Agus Salim
Para ulama ini tidak egois. Mereka membawa ruh syariat Islam ke dalam rumusan dasar negara
tanpa harus memaksakan label formal institusi agama yang bisa memecah belah bangsa yang
majemuk ini.

Peristiwa 18 Agustus 1945: Ketulusan Jiwa Ulama demi Persatuan
Puncak keteladanan ulama terjadi pada tanggal 18 Agustus 1945. Saat itu, terdapat keberatan dari
saudara-saudara kita di Indonesia timur mengenai tujuh kata dalam Piagam Jakarta: “dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
Mendengar hal itu, demi menjaga keutuhan Indonesia yang baru merdeka satu hari, para ulama
melakukan musyawarah besar. KH. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, dan para tokoh lainnya
menunjukkan kebesaran jiwa. Mereka sepakat menghapus tujuh kata tersebut dan menggantinya
dengan: “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Makna Spiritual “Ketuhanan Yang Maha Esa”
Ulama besar kharismatik, KH. As’ad Syamsul Arifin, menegaskan bahwa perubahan ini sama
sekali tidak mengurangi nilai Islam. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, adalah cerminan
langsung dari konsep Tauhid (Qul Huwallahu Ahad) dalam Islam.
Ulama tidak membuang Islam dari Pancasila, melainkan memasukkan esensi nilai Islam ke dalam
napas seluruh sila:
Hubungan antara membela tanah air dan menegakkan agama bukanlah dua hal yang terpisah.
Bukti nyata dalam sejarah perjuangan bangsa kita adalah lahirnya Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bersama para ulama pada 22 Oktober 1945.
Peristiwa tersebut menjadi infrastruktur awal heroisme para pemuda dan para pejuang untuk
berjibaku mempertahankan ibu pertiwi dan melahirkan Hari Pahlawan 10 Nopember. Dalam
naskah asli Resolusi Jihad tersebut, para ulama menegaskan sebuah fatwa yang sangat kuat:
“Membela tanah air dari penjajahan adalah fardhu ‘ain (kewajiban individu) bagi setiap orang Islam
yang berada dalam jarak 94 kilometer.”
Fatwa ini menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berlandaskan
Pancasila adalah bagian dari ibadah dan jihad di jalan Allah. Para ulama memahami betul bahwa
syariat Islam tidak akan pernah bisa ditegakkan dengan tenang jika negara dalam keadaan hancur
dan terjajah.

Jamaah yang dimuliakan Allah, Mari kita tajamkan pemahaman kita, bagaimana setiap sila
dalam Pancasila sebenarnya mengalirkan darah syariat Islam yang digali oleh para ulama kita:
 Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa Ini adalah fondasi Tauhid murni. Sila ini menegaskan
ayat Qul huwallahu ahad (Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa). Sila ini mengusir paham
ateisme dan memberikan hak penuh bagi umat Islam untuk mengesakan Allah SWT di bumi
Nusantara.
 Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Ini adalah manifestasi dari konsep Al-Inshaf
dan Akhlakul Karimah. Islam melarang kezaliman dan memerintahkan kita menghormati harkat
martabat manusia tanpa memandang suku atau ras, sebagaimana misi Rasulullah SAW
diturunkan untuk menyempurnakan akhlak manusia.
 Sila Ketiga: Persatuan Indonesia Ini adalah perwujudan dari Ukhuwah Wathaniyah
(persaudaraan sebangsa). Allah SWT melarang kita bercerai-berai melalui firman-Nya:
Wata’ashimu bihablillahi jami’an wala tafarroqu (Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada
tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai).
 Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusya
waratan/Perwakilan Ini adalah prinsip As-Syura yang diajarkan Al-Qur’an dan dipraktikkan oleh
Rasulullah SAW bersama para sahabat. Keputusan bangsa ini diambil lewat musyawarah demi
kemaslahatan bersama, bukan dengan memaksakan kehendak sepihak.
 Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Ini adalah tujuan utama dari
syariat Islam, yaitu Al-‘Adalah. Islam hadir untuk memastikan tidak ada penindasan ekonomi,
bahwa kekayaan tidak boleh hanya berputar di antara orang-orang kaya saja, dan hak-hak kaum
lemah (dhuafa) wajib dipenuhi.

Dengan demikian, tidak ada satu pun celah dalam Pancasila yang bertentangan dengan Islam.
Pancasila adalah kalimat kesepakatan (kalimatun sawa) yang merangkum nilai-nilai luhur Al
Qur’an dan Sunnah ke dalam bahasa kebangsaan agar Indonesia tetap utuh dan damai.
Oleh karena itu, bersyukur atas hadirnya Pancasila adalah wujud syukur kita atas warisan para
ulama. Tanpa kebijaksanaan mereka, Indonesia mungkin sudah pecah berkeping-keping sejak
awal kemerdekaannya.

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kaum muslimin dan muslimat, mukmin dan mukminat, yang masih
hidup maupun yang telah mendahului kami.
Ya Allah, curahkanlah rahmat-Mu yang tak terbatas pada negeri kami, Indonesia. Jadikanlah
negeri ini tempat yang aman bagi kami untuk sujud, mengaji, dan membesarkan anak cucu kami
dalam iman.
Ya Allah, balaslah kebaikan para ulama dan pejuang bangsa kami dengan pahala yang berlipat
ganda. Tempatkanlah mereka di surga tertinggi-Mu karena keluhuran budi mereka yang telah
menyatukan kami dalam kedamaian Pancasila.
Ya Allah, jagalah persatuan kami, jauhkanlah kami dari adu domba dan fitnah yang merusak
bangsa. Sempurnakanlah hidup kami dengan kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat kelak.
Amin.”

 

Tags: ayi mamduhkhutbah jumatmui cianjurpcnu cianjur

Related Posts

No Content Available

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Twitter Instagram
Lebah.or.id

LEMBAGA MEDIA CENTER
PARTAI KEBANGKITAN BANGSA KABUPATEN CIANJUR
Alamat: Jl. Prof. Moch. Yamin No. 115, Sayang, Kec. Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat 43213

  • Berita
  • Download
  • Galeri
  • Info Publik

© 2023 Lebah.or.id | Dev zafi.std

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Info Publik
    • Dewan Pengurus
    • Laporan Keuangan
    • PPID
  • Download
    • Form Pendaftaran Caleg DPR RI
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Tentang Kami
  • Opini
  • Tokoh
  • Khutbah

© 2023 Lebah.or.id | Dev zafi.std