GERAKAN mahasiswa secara histori memang mampu membuktikan eksistensi perubahan yang masif, baik gerakan perlawanan anti kekuasaan, maupun melalui gerakan critical policy (kritik kebijakan) dan critical legacy (warisan kritis) .
Namun dalam rentan satu decade belakangan ini, gerakan mahasiswa nyaris tak terdengar kabarnya, gerakan-gerakan mahasiswa yang ada hanya terkonsetrasi terhadap gerakan kepentingan sesaat, yang berbau kompromistik.
Ada banyak kabar-kabar sumbang yang mempertanyakan eksistensi gerakan mahasiswa di era modern ini, bahkan dijalanan, kita selalu menjumpai pertanyaan itu seolah mempertanyakan legacy mahasiswaa hari ini yang cenderung tidak lagi mewakili kepentingan rakyat.
“Kemana mahasiswa hari ini?,” pertanyaan itu tidak sedikit kita jumpai ditengah sulitnya ekonomi masyarakat, namun tak satupun kesadaran gerakan itu muncul di tengah gerakan mahasiswa. Mahasiswa tidak lagi gusar dengan kenaikan harga beras, atau harga minyak. Di tengah system kekuasaan yang juga tak lagi mengindahkan derita rakyat.
Para penguasa hari ini menjadikan rakyat sebagai objek pembangunan saja, yang bisa diselesaikan dengan sumbangan bahan pokok atau bansos, sementara itu penguasa terus menerus tanpa henti membangun, dengan idiom pembangunan yang serampangan tanpa memperhatikan kepentingan rakyat.






