Para penyelenggara negara terkonsentrasi terhadap kepentingan investasi yang tak kunjung memberikan dampak ekonomi yang baik, mereka hanya meperhatikan proyek strategis nasional yang ingin segera beres tanpa memperhatikaan kepentingan rakyat.
Sederhananya, pemerintah tak lagi memikirkan harga beras yang mahal, mereka hanya memikirkan proyek IKN dan pembangunan jalan tol.
Mesti hal ini harus menjadi refleksi gerakan mahasiswa yang saat ini sudah terdistraksi dengan gerakan kepentingan yang elitis. Tak terlepas dari itu PMII harus menjadi jawaban atas ketidak adilan yang terjadi saat ini, sebab hakikatnya PMII lahir pada tahun 1960 dulu PMII terlahir dari ruang batin para mahasiswa yang peka terhadap situasi keperihatinan nasional pada saat itu.
Tidak salah apabila saat ini kita mengambil nilai dan pelajaran dari refleksi kelahiran PMII saat itu yang penuh dengan keperihatinan, yang penuh dengan tantangan.
Dengan momentum harlah PMII yang ke 64 saya mengajak terkhusus kepada kader dan anggota PMII, untuk menggelorakan kembali semangat gerakan mahasiswa yang gandrung akan keadilan, kejujuran, dan cinta akan ilmu pengetahuan, agar kitab bisa lebih peka terhadap situasi kehidupan saat ini.
Kemunculan PMII yang mempunyai corak nilai ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an harusnya menjadi formulasi gerakan saat ini, sebagaimana kemunculan PMII saat berdiri.
PMII didirikan oleh 13 mahasiswa yang mempunyai akar pemikiran bersama menjalin gerakan kemahasiswaan yang bercorak ahlusunnah walzamaah.
Para founding father PMII sudah meletakan nilai dan cita bersama, apa cita bersama itu? Antara lain yang termaktub dalam tujuan PMII itu sendiri.






