Dalam tujuannya PMII bukan sekdar angan dan khayal yang utopis, tetapi kerangka acuan untuk melangkah bersama sesuai dengan karakter dan cita PMII.
Semisal cita ke-Islam-an, agama bukan lagi hanya dijadikan faktor pendukung bagi kehidupan bermasyarakat, tetapi cita ke-Islam-an itu yang menjadikan motivasi dan landasan bergerak agar mahasiswa Islam mampu berperan, artinya bahwa mahasiswa harus menginternalisasi spirit juang ajaran aswaja sebagai suatu landasan harokah yang nyata. Dimana para pendiri PMII mempunyai ruang batin akan kenyataan yang dijalaninya dengan melihat realitas zaman, dimana saat itu kondisi sosio politik nasional tidak sedang baik-baik saja.
Sesuai dengan prinsip dan ajaran organisasi terdahulu yaitu Nahdlatul Ulama, dimana para ulama mampu menjadi motor gerak bagi perubahan bangsa sehingga berhasil bersama-sama mendorong kemerdekaan NKRI, sebagai cita ke-Indonesia-an dan terus memperjuangkan cita-cita kemerdekaan itu tanpa lelah sampai saat ini.
Keberjalanan PMII dari masa kemasa periode ke periode sudah mampu membuktikan eksistensi gerakan kemasiswaan dengan berhasil melahirkan kader-kader bangsa dengan berbagai pemikiran dan pengembangan pengetahuan gerak.
Sekurang-kurangnya ada ada epat fase momentum besar menurut penulis yang cukup monumental bagi PMII. Fase pertama berdirinya PMII, fase kedua fase deklarsi independesi PMII, fase ke tiga fase membangun paradigma sebagai pendekatan gerak, dan fase pasca reformasi.
Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, berdirinya PMII tidak terlepas dari situasi dan kondisi bangsa pasca kemerdekaan, dimana situasi sosial, politik dan ekonomi mengalami hal yang pelik, namun di situasi itulah para pendiri PMII mengilhami apa yang terjadi, sehingga PMII menjadi sebuah kekuatan gerakan baru dari situasi yang terjadi.






